Rabu, 22 Januari 2014

KASASI



Kasasi merupakan upaya hukum yang diberikan oleh undang-undang apabila para pihak tidak sependapat dengan pertimbangan hukum dan putusan Pengadilan Tinggi. Menurut pasal 22 UU No. 4 tahun 2004 terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain. Dengan pengajuan Kasasi tersebut berdasarkan pasal 30 ayat(1) UU No. 4 tahun 2004 Mahkamah Agung dapat membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan karena:
a.     Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;
b.     Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
c.      Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Dari ketentuan ersebut dapat di mengerti bahwa Mahkamah Agung dalam melakukan peradilan kasasi hanya meninjau segi hukum dari putusan dalam tingkat banding atau tingkat terakhir:
·        Apakah putusan itu sesuai atau tidak dengan hukum yang berlaku atau
·        Apakah bertentangan atau tidak dengan hukum yang berlaku atau
·        Sama sekali tidak melaksanakan peraturan hukum atau
·        Melaksanakan hukum tetapi ada kekeliruan dalam pelaksanaannya.
Pelaksanaan kasasi
1. Permohonan kasasi dapat diajukan hanya perkara yang diputus oleh pengadilan banding atau pengadilan tingkat terakhir (ps. 29 yo. Ps.43 UU No.14 tahun 1985).
2.  Permohonan kasasi diajukan oleh pihak yang berperkara atau wakilnya yang secara khusus dikuasakan untuk itu (ps.44 ayat(1a) UU. 14-1985).
3. Dalam hal putusan verstek, Tergugat harus sudah mengajukan verzet lebih dahulu, kemudian mengajukan banding (ps. 129 HIR).
4. Masih dalam tenggang waktu 14 hari sesudah putusan atau penetapan pengadilan diberitahukan kepada pemohon (ps. 46 ayat 1 UU.14-1985).
5. Membayar biaya perkara kasasi (ps.46 ayat 3 UU.14-1985).
6. Harus melampirkan memori kasasi yang memuat alasan-alasan kasasi dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi dicatat dalam buku daftar (ps. 47 ayat 1 UU 14-1985).
Adanya permohonan kasasi yang telah didaftar tersebut selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari Panitera harus memberitahukan secara tertulis kepada  pihat Termohon kasasi untuk diketahui (ps.46 ayat 4 UU 14-1985). Adanya memori yang diserahkan kepada panitera maka Panitera harus menyampaikan salinan memori kasasi tersebut kepada pihak lawan dalam perkara dimaksud dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari. Pihak lawan berhak mengajukan contra memori dalam tenggang waktu 14 hari sejak diterimanya salinan memori kasasi.
Pemeriksaan kasasi
Dalam melakukan pemeriksaan dan memberikan putusan kasasi Mahkamah Agung harus bersidang dengan sekurang-kurangnya tiga orang hakim, seorang hakim bertindak sebagai hakim ketua dan yang lainnya sebagai hakim anggota serta dibantu oleh seorang panitera atau panitera pengganti (ps. 40 UU 14-1985).
Pemeriksaan kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung berdasarkan surat berkas perkara yang dimohonkan kasasi. Hakim kasasi hanya memeriksa penerapan hukumnya saja, karena itu memori kasasi dan contra memori kasasi sangat penting bagi Mahkamah Agung dalam menentukan apakah hukum sudah diterapkan dengan benar oleh yudex fakti. Jika memori kasasi tidak disertakan pada permohonan kasasi, maka kasasi tidak diterima sebab dianggap tidak mempunyai alasan hukum.
Putusan kasasi  
Setelah pemeriksaan kasasi selesai Mahkamah Agung memberikan putusannya yang dapat berupa:
1. Permohonan kasasi tidak dapat diterima disebabkan waktu pengajuan kasasi telah lewat atau memori kasasi tidak dimasukkan atau pemohon kasasi tidak/belum menggunakan  haknya yang lain misalnya perlawanan (verzet), banding.
2. Permohonan kasasi ditolak disebabkan a.l:
a.     Keberatan yang diajukan oleh pemohon kasasi semata-mata mengenai kejadian atau peristiwa yang tidak termasuk wewenang hakim kasasi.
b.     Alasan yang dikemukakan dalam memori kasasi justru bertentangan dengan hukum sedangkan judex facti telah benar menerapkan hukumnya.
c. Alasan hukum yang dikemukakan dalam memori kasasi tidak ada sangkut pautnya dengan hukum yang menguasasi pokok perkara itu.
3. Permohonan kasasi diterima (dikabulkan), apabila permohonan kasasi beralasan dan dibenarkan oleh hakim kasasi, maka permohonan kasasi dapat diterima dan Mahkamah Agung membatalkan putusan judex facti yang dimohonkan kasasi. Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara itu guna membenarkan hukumnya atau menerapkan hukumnya yang benar dan tepat pada perkara yang dimohonkan kasasi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar