Kasasi
merupakan upaya hukum yang diberikan oleh undang-undang apabila para pihak
tidak sependapat dengan pertimbangan hukum dan putusan Pengadilan Tinggi.
Menurut pasal 22 UU No. 4 tahun 2004 terhadap putusan pengadilan dalam tingkat
banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak yang
bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain. Dengan pengajuan Kasasi
tersebut berdasarkan pasal 30 ayat(1) UU No. 4 tahun 2004 Mahkamah Agung dapat
membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan
peradilan karena:
a.
Tidak
berwenang atau melampaui batas wewenang;
b.
Salah
menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
c.
Lalai
memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang
mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Dari ketentuan
ersebut dapat di mengerti bahwa Mahkamah Agung dalam melakukan peradilan kasasi
hanya meninjau segi hukum dari putusan dalam tingkat banding atau tingkat
terakhir:
·
Apakah
putusan itu sesuai atau tidak dengan hukum yang berlaku atau
·
Apakah
bertentangan atau tidak dengan hukum yang berlaku atau
·
Sama
sekali tidak melaksanakan peraturan hukum atau
·
Melaksanakan
hukum tetapi ada kekeliruan dalam pelaksanaannya.
Pelaksanaan kasasi
1. Permohonan kasasi dapat diajukan hanya perkara yang diputus oleh
pengadilan banding atau pengadilan tingkat terakhir (ps. 29 yo. Ps.43 UU No.14
tahun 1985).
2. Permohonan kasasi
diajukan oleh pihak yang berperkara atau wakilnya yang secara khusus dikuasakan
untuk itu (ps.44 ayat(1a) UU. 14-1985).
3. Dalam hal putusan verstek, Tergugat harus sudah mengajukan
verzet lebih dahulu, kemudian mengajukan banding (ps. 129 HIR).
4. Masih dalam tenggang waktu 14 hari sesudah putusan atau
penetapan pengadilan diberitahukan kepada pemohon (ps. 46 ayat 1 UU.14-1985).
5. Membayar biaya perkara kasasi (ps.46 ayat 3 UU.14-1985).
6. Harus melampirkan memori kasasi yang memuat alasan-alasan kasasi
dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi dicatat dalam buku
daftar (ps. 47 ayat 1 UU 14-1985).
Adanya
permohonan kasasi yang telah didaftar tersebut selambat-lambatnya dalam waktu 7
(tujuh) hari Panitera harus memberitahukan secara tertulis kepada pihat Termohon kasasi untuk diketahui (ps.46
ayat 4 UU 14-1985). Adanya memori yang diserahkan kepada panitera maka Panitera
harus menyampaikan salinan memori kasasi tersebut kepada pihak lawan dalam
perkara dimaksud dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari. Pihak lawan berhak
mengajukan contra memori dalam tenggang waktu 14 hari sejak diterimanya salinan
memori kasasi.
Pemeriksaan kasasi
Dalam
melakukan pemeriksaan dan memberikan putusan kasasi Mahkamah Agung harus
bersidang dengan sekurang-kurangnya tiga orang hakim, seorang hakim bertindak
sebagai hakim ketua dan yang lainnya sebagai hakim anggota serta dibantu oleh
seorang panitera atau panitera pengganti (ps. 40 UU 14-1985).
Pemeriksaan
kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung berdasarkan surat berkas perkara yang
dimohonkan kasasi. Hakim kasasi hanya memeriksa penerapan hukumnya saja, karena
itu memori kasasi dan contra memori kasasi sangat penting bagi Mahkamah Agung
dalam menentukan apakah hukum sudah diterapkan dengan benar oleh yudex fakti.
Jika memori kasasi tidak disertakan pada permohonan kasasi, maka kasasi tidak diterima
sebab dianggap tidak mempunyai alasan hukum.
Putusan kasasi
Setelah
pemeriksaan kasasi selesai Mahkamah Agung memberikan putusannya yang dapat
berupa:
1. Permohonan kasasi tidak
dapat diterima disebabkan waktu pengajuan kasasi telah lewat atau memori
kasasi tidak dimasukkan atau pemohon kasasi tidak/belum menggunakan haknya yang lain misalnya perlawanan
(verzet), banding.
2. Permohonan
kasasi ditolak disebabkan a.l:
a.
Keberatan
yang diajukan oleh pemohon kasasi semata-mata mengenai kejadian atau peristiwa
yang tidak termasuk wewenang hakim kasasi.
b.
Alasan
yang dikemukakan dalam memori kasasi justru bertentangan dengan hukum sedangkan
judex facti telah benar menerapkan hukumnya.
c. Alasan hukum yang dikemukakan dalam memori kasasi tidak ada
sangkut pautnya dengan hukum yang menguasasi pokok perkara itu.
3. Permohonan kasasi diterima (dikabulkan), apabila
permohonan kasasi beralasan dan dibenarkan oleh hakim kasasi, maka permohonan
kasasi dapat diterima dan Mahkamah Agung membatalkan putusan judex facti yang
dimohonkan kasasi. Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara itu guna
membenarkan hukumnya atau menerapkan hukumnya yang benar dan tepat pada perkara
yang dimohonkan kasasi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar